Abses Paru

Abses paru adalah suatu kavitas  dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang  akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi  .
       Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan  alkohol. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. (1, 2, 3, 6)
Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob. (4, 6, 7)
       Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin, metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. Walaupun masih efektif, terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4)
1.      Waktu perawatan di RS yang lama
2.      Potensi reaksi keracunan obat tinggi
3.      Mendorong terjadinya resistensi antibiotika.
4.      Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni.
       Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis, terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada.


I.         EPIDEMIOLOGI

1.      Faktor Predisposisi
Ada bebreapa kondisi yang menyebabkan atau mendorong terjadinya abses paru. Janet et al tahun 1995 melakukan penelitian di rumah perawatan intensive RS di Afrika Selatan, didapatkan beberapa faktor predisposisi abses paru seperti berikut : (1, 2, 3, 4, 7)

Tabel 1. Faktor predisposisi Abses paru
No
Faktor Predisposisi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Alkoholik
Aspirasi benda asing
Karies gigi
TB paru lama
Epilepsi
Penyalahgunaan obat
Penyakit paru obstuktif
SLE
Ca Bronkogenik
Nihil

Tabel di kutip dari Chest/108/4/Okt’95 hal 938.

ASHER DAN BEAUDRY tahun 1992 melaporkan beberapa faktor predisposisi Abses paru yang terjadi pada anak-anak sebagai berikut :

Tabel 2. Faktor predisposisi abses paru pada anak-anak.

1. Condition

Contoh 
Infeksi berat









Immunodeficiency atau immunosuppression disorder









Conditiopn leading to repeated aspiration





Yang lain {miscellcellaneous jarang)

Bronchopneumonia
Meningitis
Osteomyelitis
Septicemia
Infected aczema
Septic arthritis
Abdominal wall abscess
Peritonsillar abscess
Endocarditis

Measles
Burns
Prematurity
Blood dyscrasias
Leukimia
Hepatitis
Dysgammaglobulinemia
Nephrotic syndrome
Chronic granulamatous disease
Steroid therapy
Malnutrition

Seozure disorders
Mental deficiency
Altered consciousness
Dysphagia
Priodonitis, Carries, gingiva desease
Riley-Day syndrome

Cystic fibrosis
Misplaced central nervouse catheter
Alpha-antitrypsin deficicency
Foreign body in respiration tract
Eroded foreign body in the esophagus

Tabel 2 dikutip dari (1)
Tabel 1. Presdeposisi factor dari Abses Paru
No
Presdeposisi factor dari Abses Paru
1
2
3
4
5
6
7
Aspirasi dari oropring
Obstruksi bronkial
Pneumonia
Blood-borne infection
Infark paru yang terinfeksi
Ruda paksa (trauma)
Penyebaran transdiapragmatika

Tabel 2. Diferensial Diagnosis Abses Paru
No
Diferensial Diagnosis Abses Paru
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Cavitas Tumor
Bula atau kista bronkial
Bronkiektasa seculea
Aspersiloma
Wegener’s gramulomatasi
Kista hydaditosa
Pneumekoniosis caplan’s sipidron
Cavitas rheumatoid nodule
Gas fluid level in oesopkagus, Stomach or bowel

Aspirasi dari derah orofaring yang paling sering penyebab terjadinya abses. Freton predesposisi yang menyebabkan aspirasi orofaring seperti tabel III, kadang-kadang satu orang lebih dari satu faktor.

Tabel 3. Presdeposisi Aspirasi Orofaring


Presdeposisi Aspirasi Orofaring
ganguan kesadaran



-          Alkohol
-          drug abuse
-          epilepsi
-          atuastesi
ganguan inervasi otot
-          faring
-          laring
-          oesepagos
Infeksi nasal
-          penyakit sinus
Infeksi oral
-          dental carries
-          ginigival desease
Infeksi farigeal
-          pouch
Infeksi caryugeal
-          tumor
Infeksi ocsepekageal
-          stricture
-          hiatus kernea
obstruksi Bronkus disebabkan oleh tanda umumnya keganasan, atau benda asing
Tabel 3 dikutip dari (1)
2.      Etiologi
Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1).
Dibawah ini ada 3 tabel kuman penyebab abses dari 3 penelitian yang berbeda.

Tabel 3. Spektrum organisme penyebab Abses paru menurut Asher dan Beaudry
Type of Abscess
Organisms
Primary






Secondary

a.  Staphylococcus aureus

Haemophilus influenzae types B, C, F, and nontypable
Streptococcus viridans, pneumoniae
Alpha-hemolytic streptococci
Neisseria sp.
Mycoplasma pneumoniae

Aerobes
1)        All those listed for primary abscess
Haemophilus aphropilus, parainfluenzae
Streptococcus group B, intermedius
Klebsiella penumoniae
Escherichia coli, freundii
Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificsns
Aerobacter aeruginosa
Candida
Rhizopus sp.
Aspergillus fumigatus
Nocardia sp
Eikenella corrodens
Serratia marcescens
Anaerobes
2)   Peptostreptococcus constellatus, intermedius, saccharolyticus
3)   Veillonella sp., alkalenscenens
4)   Bacteroides melaninogenicus, oralis, fragilis, corrodens, distasonis, vulgatus, ruminicola, asaccharolyticus
5)   Fusobacterium necrophorum, nucleatum
6)   Bifidobacterium sp.

Tabel 3 dikutip dari (1)

Tabel 4. Spektrum isolasi bakteri Abses paru akut menurut Hammond et al.

No. of Isolates
%
Anaerobs
Provetella sp
Porphyromonas sp
Unspectiated pigmented anaerobs
a)         Bacteroides sp
Fusobacterium sp
Anaerobic cocci
Microaerophilic streptococci
Veilonella sp
Clostridium sp
Nonsporing Gran-positive anaerobes
“Mixed anaerobes”
total
Aerobs
b)        Viridans streptococci
c)         Staphylococcus sp
d)        Corynebacterium sp
Klebsiella sp
Haemophilus sp
Gram-negative cocci
Total

17
7
4
4
4
4
7
1
1
9
1
59

7
5
3
2
1
2
20

22
9
5
5
5
5
9
1
1
11
1
74

9
6
4
3
1
3
26

Tabel 4 dikutip dari (6)
Tabel 5. Organisme dan kondisi yang berhubungan dengan Abses paru menurut Finegold dan Fishmans
(1)      Infectious
Noninfectious and Predisposing Conditions
Bacteria
Anaerobes; Staphylococcus aureus, Enterbacteriaceae, Pseudomanas aeruginosa, streptocicci, Legonella spp, Nocardia asteroides, Burkholdaria pseudomallei
Mycobacteria (often multifocal)
M. tuberculosis, M. avium complex, M. kansasii, other mycobacteria
Fungi
Aspergillus spp, Mucoraceae, Histoplasma capsulatum, Pneumocystis carinii, Coccidioides immitis, Blastocystis hominis
Parasites
Entamoeba histolytical, Paragonimus westermani, Stronglyoides stercoralis (post-obstructive)
Empyema (with air-fluid level)
Septic embolism (endocarditis)
Anatomis
Fluid-filled cysts, bland infraction
Bronchiectasis
Vasculitis
Goodpasture’s syndrome, Wegener’s granulomatosis, periateritis
Obstruction (neoplasm, foreign body)
Pulmonary sequestration
Pulmonary contusion
Carcinoma

Tabel 5 dikutip dari (4)

3.      Insidens
Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0,7 dari 100.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0,67 tiap 100.000 penderita anak-anak yang MRS. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1,6 : 1 (1, 8).
Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari    30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7).


II.       PATHOFISIOLOGI

  1. PATHOLOGI
Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi, infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis.
Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal, yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses, melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. Suatu saat abses pecah, lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk, kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. Sputumnya biasanya berbau busuk, bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2, 3, 10).

  1. PATHOFISIOLOGI
Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5)
a.       Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses nekrosis. Bila berhubungan dengan bronkus, maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar.
b.      Kavitas yang mengalami infeksi. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas, akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder.
c.       Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru.
Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial.
d.      Pembentukan kavitas pada kanker paru.
Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah, sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses.


III.    MANIFESTASI KLINIS.

  1. Gejala klinis : (1, 2, 3, 4, 5, 6)
Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu:
a.       Panas badan
Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru. Kadang dijumpai dengan temperatur  > 400C.
b.      Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (40-75%).
c.       Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru.
d.      Nyeri dada (± 50% kasus)
e.       Batuk darah (± 25% kasus)
f.       Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat badan.
Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup, suara nafas yang meningkat, sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi.
  1. Gambaran Radiologis (1, 2, 9)
Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Kavitas ini bisa multipel atau tunggal dengan ukuran f 2 – 20 cm.
Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas).
  1. Pemeriksaan laboratorium (2, 3, 5)
a.       Pada pemeriksaan darah rutin. Ditentukan leukositosis, meningkat lebih dari 12.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32.700/mm3. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam.
Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left
b.      Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat.
c.       Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis.


IV.    DIAGNOSA

Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja.
Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1, 2, 3, 4, 5, 6)
1.         Riwayat penyakit sebelumnya.
Keluhan penderita yang khas misalnya malaise, penurunan berat badan, panas badan yang ringan, dan batuk yang produktif.
Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi, trauma atau serangan epilepsi. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat.
2.         Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru.
3.         Pemeriksaan laboratorium sputum gram, kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi.
4.         Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya, adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi.
5.         Bronkoskopi
Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus.
Diagnosa Banding (2) :
1.         Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi, biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi.
2.         Tuberkulosis paru atau infeksi jamur
3.         Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur.
4.         Bula yang terinfeksi, tampak air fluid level. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi.
5.         Kista paru yang terinfeksi. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya.
6.         Hematom paru. Ada riwayat trauma. Batuk hanya sedikit.
7.         Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita.
8.         Hiatus hernia. Tidak ada gejala paru. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto.
9.         Sekuester paru. Letak di basal kiri belakang. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd.


V.       PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2, 4, 5, 9, 10)
  1. Medika Mentosa
Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik.
Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole, atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin.
Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase, pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru.
Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas, jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu.
  1. Drainage
Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru.
Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi.
  1. Bedah
Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila:
a.       Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika.
b.      Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi
c.       Infeksi paru yang berulang
d.      Adanya gangguan drainase karena obstruksi.


VI.    KOMPLIKASI DAN PROGNOSA

1.      Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4, 5)
a.       Empyema
b.      Abses otak
c.       Atelektasis
d.      Sepsis

2.      Prognosa
Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7).
Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Muri et al melaporkan 2,4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai   berikut : (7)
a.       Anemia dan Hipo Albuminemia
b.      Abses yang besar (f > 5-6 cm)
c.       Lesi obstruksi
d.      Bakteri aerob
e.       Immune Compromised
f.       Usia tua
g.      Gangguan intelegensia
h.      Perawatan yang terlambat


VII. RINGKASAN

Abses paru adalah suatu kavitas  dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan, gangguan kesadaran (anestesi, epilepsi), oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing.
Pada abses paru memberikan gejala klinis panas, batuk, sputum purulen dan berbau, disertai malaise, naspu makan dan berat badan yang turun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia, tanda-tanda konsolidasi. Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level  atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus.
Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis.
Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi.


DAFTAR PUSTAKA

Asher MI, Beadry PH ; Lung Abscess in infections of Respicatory tract ; Canada ; 1990 : 429 – 34.

Assegaff H. dkk ; Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru ; AUP ; Surabaya ; 136 – 41.

Barlett JG ; Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed ; Phildelphia ; 1992 ; 413 – 15.

Finegold SM, Fishman JA ; Empyema and Lung Abscess ; in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed ; Philadelphia ; 1998 ; 2021 – 32.

Garry et al ; Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd ; Oklahoma ; 1993 ; 119 – 120.

Hammond JMJ et al ; The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess ; Chest ; 108 ; 4 ; 1995 ; 937 – 41.

Hirshberg B et al ; Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess ; Chest ; 115 ; 3 ; 1999 ; 746 – 52.

Johnson KM, Huseby JS ; Lung Abscess Caused by Legionella micdadei ; Chest 111 ; 1 ; 1997 ; 109 – 13.

Klein JS et al ; Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions, Lung Abscess, and Pneumothorax ; AJR ; 1995 ; 164 ; 581 – 88.


Ricaurte KK et al ; Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation ; joutnal of allergy and clinical imonoligy ; 104 ; 1 1999 ; 238 – 40.

Related Posts:

Cerebro Vasculer Accident

CEREBRO VASCULAR ACCIDENT
( STROKE )

I.                        DEFENISI
-    STROKE  adalah syndrome yang awalnya timbul mendadak, progresi cepat, berupa deficit neurologist fokal atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih /langsung menimbulkan kematian dan semata – mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatic.

                                                                         (Kapita Selekta Kedokteran , Jilid 2. 2000)

-    STROKE adalah serangan otak, apopleksia serebral sangat panas, sindrom akibat pemanjanan terhadap panas secara berlebihan, ditandai dengan kelemahan tujuh keliling (vertigo), nyeri kepala, rasa mual dan kolaps peredaran darah perifer biasanya terjadi karena kegiatan fisik di lingkungan panas, sengat matahari, sejenis sengat panas akibat terpajannya seseorang pada terik sinar mtahari, ditandai dengan hiperpireksia tinggi, kelemahan, kejang dan koma.

                                                                                                 (Kamus Kedokteran, 2000)

II.                     ETIOLOGI.
Stroke terjadi karena beberapa hal yaitu :
1.      Iskemia / infrack
a.     Trombosit merupakan penyebab stroke yang paling sering (40 %) dari local dinding pembuluh darah akibat ateriklerosis. Proses ateroklerosist ditandai oleh plak berlemak pada lapisan intima asteri selebri menjadi tipis dan berserabut sedangkan sel – sel ototnya menghilang. Laminan elastika interval robek, dan terjumpas, sehingga lumen pembuluh sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut, plak cenderung terbentuk pada percabangan atau tempat – tempat yang melengkung.
b.   Embolisme, merupakan penyebab stroke urutan ke dua banyaknya emboli selebri berasal dari suatu thrombus dalam jantung selain itu emboli juga berasal dari plak ateromatus sinus karaktikus atau arteria karofis interna.
c.      Artritis, merupakan akibat radang pembuluh  darah pada otak
2        Perdarahan otak
·    Intra cerebral (PIS) à akibat hipertensi
·   Sub arahnoid (PSA) biasanya akibat  aneurisma atau AVM

(Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3, Jakarta : Media Aesalaplus.FKUI.2000)

III.                 PEMBAGIAAN STROKE
  1. TIA (Transient Ischemic Acut )
Ditandai oleh gangguan neurologis fokal yang berakhir dalam beberapa menit atau jam, sering kurang 24 jam. Gangguan ini dapat sembuh spontan tanpa gejala sisa atau berkembang menjadi “ complete stroke “ dalam beberapa bulan atau lebih. Biasanya identik pada angina pictoris IMA
  1. RIND ( Residual Ischemic Neurologic Defisit)
Sama dengan TIA tapi berlangsung lebih dari 24 jam dan sembuh sempurna dalam waktu kurang dari 3 minggu
3        Complete Stroke
Stroke dengan defisit neurologis berat dan memetap, mencapai puncaknya dalam waktu 6 jam dengan penyembuhan tidak sempurna dalam waktu lebih 3 minggu
4        Progresive Stroke
Stroke dengan defisit neurologis fokal yang terjadi bertahap dan mencapai puncaknya dalam waktu 24 – 48 jam atau 96 jam dangan penyembuhan tidak sempurma dalam waktu lebih dari 3 minggu.

IV.                 FAKTOR - FAKTOR RESIKO
  • MAYOR
a.       Hipertensi
b.      Kelainan janrung
c.       Diabetes militus
  • MINOR
a.       Hiperlipidemia
b.      Rokok
c.       Hematokrit meningkat
d.      Lain – lain : Usia, alcohol, pil kontrasepsi, obesitas

V.                     PATOFISIOLOGI.
 
 


VI.                 MANIFESTASI KLINIS.
Gejala neurologist yang timbul pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya, Manifestasi klinis stroke dapat berupa :
a.  Kelumpuhan wajah / anggota yang timbul mendadak.
b. Gangguan pada sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
c.   Perubahan mendadak struktur mental (letargi, stopor / koma).
d. Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan atau kesulitan memahami ucapan ).
e.  Disatria (bicara pelo atau cadel).
f. gangguan penglihatan (diplopia.)
h. vertigo, mual dan muntah atau nyeri kepala.

                (Kapita Selekta Kedokteran jilid 2 Edisi 3, Jakarta : Media Aesalaplus, FKUI )

VII.              PENATALAKSANAAN.
A.          prinsip penatalaksanaan stroke iskemik :
1.            membatasi atau memulihkan iskemia akut yang sedang berlangsung (3 – 6 jam) menggunakan trombolisis dengan RT – PA.obat ini hanta untuk stroke iskemik dengan waktu onset < 3 jam dan hasil ct scan normal.
2.            mancegah perburukan neurologist yang berhubungan dengan stroke yang masih berkembang (jendela terapi sampai 72 jam). Pemburukan klinis disebabkan oleh salah satu mekanisme berikut ini :
-    edema yang progresif dan pembengkakan akibat infark, terapi dengan monitor bermanfaat hindari cairan hipotonik, steroid tidak efektif.
-   Ekstensi teratasi infrak. Heparin dapat mencegah trombosis yang progresif dan optimalisasi status volum dan tekanan darah yang dapat menyerupai kegagalan perfusi.
-   Korversi hemorogis. Jangan memberikan obat anti koogulen pada px dengan resiko tinggi selama 48 – 72 jam pertama setelah omset stroke. Bila ada hipertensi berat obati px dengan obat anti hipertensi.
3.            mencegah stroke berulang dini. Terapi dini yang heparin dapat mengurangi resiko stroke berulang dini pada px dengan kardio emboli.
B.           Protocol penatalaksanaan stroke hemoragik :
1.            singkirkan kemungkinan koagulapasi : pastikan hasil protrombin dan masa trombuplastin parsial adalah normal.
2.            kendalikan hipertensi : pendekatan pengendalian tekanan darah yang paling agresif dilakukan pada px dengan perdarahan intra serebral akut. Tekanan darah sistolik > 180 mmhg haarus diturunkan sampai 150 – 180 mmhg.
3.            pertimbangkan konsultasi bedah saraf bila : perdarahan sereblum diameter lebih dari 3 cm atau volume 50 ml. untuk dekompresi atau pemasangan pintoran vertikula, peritoneal bila ada hidrosefalus obstruktif akut atau kuping aneurisma.
4.            pertimbangkan angiografi untuk menyingkirkan aneurisma / malformak artesio venosa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada px usia muda (< 50 th).
5.            berikan monitol 20 % (1 kg / kg bb, IV dalam atau tanda – tanda tekanan intra cranial yang meninggi).
6.            pertimbangkan fenitoin (10 -20 mg / kg bb IV) kecepatan maksimal 50 mg / mnt atau peroral.
7.            pertimbangkan terapi hiprolemik dan himodipin mencegah vasospasme bila secara klinis.
8.            perdarahan intra serebral.
-    Obati penyebabnya.
-   Berikan neuroportektori.
-   Turunkan tekanan intra cranial yang tinggi.
9.            perdarahan sub araknoid. Himodipin dapat memberikan untuk mencegah vasospasme pada perdarahan sub araknoid primer akut.
10.        tindakan operasi data dilakukan pada perdarahan sub araknoid stadium 1 dan 11 akibat pecahnya aneorisma sekuler

VIII.          DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1.      gangguan aktifitas fisik b/d melemahnya fungsi neuromuskuler.
2.      gangguan kurang perawatan diri b/d kelemahan pada ekstrimitas
3.      gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia, tidak mampu makan sendiri karena kelumpuhan ektrimitas
IX.                 INTERVENSI
DX I
1.      gangguan aktifitas fisik b/d melemahnya fungsi neuromuskuler.

INTERVENSI
1.      lakukan pendekatan padapx dan keluarga.
R/ untuk membina hubungan saling percaya pada px dan keluarga.
2.      jelaskan pada keluarga tentang kondisi px saat ini.
R/ agar keluarga mengetahui kondisi px saat ini.
3.      ajarkan posisi px dengan mika – miki.
R/ untuk mengurangi pemburukan sirkulasi darah dan mengurangi dekubitus.
4.      tempatkan bantal dibawah aksila untuk melakukan abduksi pada tangan.
R/ mencegah aduksi bahu dan fleksi siku.
5.      kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi antibiotic.
R/ untuk menghilangkan spastisitas pada ektremitas yang terganggu.

DX II
2.      gangguan kurang perawatan diri b/d kelemahan pada ekstrimitas

INTERVENSI
    1. lakukan pendekatan pada px dan keluarga.
R/ untuk membina hubungan saling percaya pada px dan keluarga.
    1. Ajarkan keluarga px dalam merawat px.
R/ membantu dan mengantisipasi kebersihan dan kesehatan px.
  1. Berikan HE tentang personal hygiene kepada keluarga px.
R/ memberikan pengetahuan kepada keluarga px tentang kebersihan diri.
    1. identifikasi kemampuan px dalam merawat integritas kulit px.
R/ menjaga kebersihan px.
    1. identifikasi kebiasaan BAB dan BAK px sebelumnya.
R/ menjaga terjadinya konstipasi dan sembelit.
    1. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat.
R/ untuk mempercepat proses penyembuhan.

DX III
3.      gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia, tidak mampu makan sendiri karena kelumpuhan ektrimitas

INTERVENSI
1.      lakukan pendekatan pada px dan keluarga.
R/ untuk membina hubungan saling percaya pada px dan keluarga.
2.      Timbang BB setiap hari.
R/ untuk mengevaluasi efektifitas terapi.
3.      Bila terjadi disfagia, tempatkan pasien pada posisi tegak dan tempatkan makanan di balik lidah
R/ . untuk mempermudah menelan
4.      Berikan makanan halus
R/ makan halus lebih mudah ditelan karenabentuknya semi cair
6.      bila terjadi aspirasi pada pemberian makanan per oral, pasang NGT.
R/ pemberian makanan lewat selang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan jarang terjadi aspirasi
7.      kolaborasi dengan tim medis lainnya
R/ mempercepat penyembuhan




DAFTAR PUSTAKA
  
-    Doenges. MC .Muor Hose MF dan Geissles, AC, Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, Jakarta EGC 1999.
-   Prince S.A dan Wilson L.M Patofisiologi Jilid 2 . Konsep Klinis  Proses – Proses Penyakit, Edisi 4, Jakarta EGC 1995.
-   Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 (Edisi 3) Jakarta : Media Aesalaplus. FKUI. 2000.


Related Posts: